Sudut Pandang: Guru, Pelita Dalam Kegelapan

3 Apr

Bukan guru biasa, itulah kata-kata yang sering saya katakan kepadanya. Bahkan, guru teladan sekalipun jika diuji dengan tantangan geografis dan sosiologis di daerah terpencil belum tentu betah berlama-lama. Maka, untuk mereka yang selalu mengkritik tentang bobroknya sistem pendidikan kita, alami saja persekolahan di daerah terpencil. Untuk guru yang ingin menguji seberapa besar kontribusi dirinya terhadapsiswa dan selalu mengeluh tentang minimnya kesejahteraan, datanglah kemari dan rasakan pengalamannya sendiri.”

Paragraf di atas merupakan cuplikan cerita yang ditulis Dimas Sandya Sulistio, Pengajar Muda gerakan Indonesia Mengajar terhadap guru bernama Ibu Mundliah, guru honorer di SDN 25 Sawang yang terletak di sebuah dusun tanpa listrik dan air di Kabupaten Aceh Utara. Setiap membaca cerita yang termuat di buku Indonesia mengajar 2 itu, tangis dan haru selalu kurasakan. Bagiku, guru seperti Ibu Mundliah itulah pelita sebenarnya. Meski hanyar guru honorer, dedikasi dan semangatnya selama 19 tahun ini melebihi banyak guru senior di Indonesia yang berstatus PNS yang diberi gaji dan tunjangan daerah, bahkan sekarang tunjangan sertifikasi pendidik yang jumlahnya tidak sedikit.

Jika hujan turun, hanya Bu Mun, satu-satunya guru yang bertahan naik ke atas bukit. Dengan berbekal motor tuanya, ia bahkan rela berjalan kaki berkilo-kilometer karena motornya tak sanggup melewati ganasnya tanjakan tanah nan berbatu di Bukit dama Buleuen. Saking licinnya, roda motor bergeser ke sana kemari, tanpa pernah bisa melaju. Sungguh membuat frustasi! Terpaksa ia meninggalkan motornya di tengah jalan, lalu kembali melanjutkan perjalanan agar kegiatan belajar dan mengajar tidak terhenti. Betapa gigih dan luar biasa perjuangannya.”

Begitu isi cuplikan paragraf lainnya dari cerita berjudul Bukan Guru Biasa tersebut. Sebagai seorang guru muda, PNS pula, aku salut pada dedikasi dan semangat beliau. Entah apa yang akan kulakukan jika mengalami kondisi serupa. Sejauh ini aku beruntung. Meski ditugaskan di sekolah ‘pinggiran’, aksesbilitasku untuk mencapai sekolah tidaklah susah.

Beberapa hari lalu aku membaca recent status dua orang teman di BBM yang mengeluhkan kondisi mereka yang ditempatkan di sekolah pinggiran. Entah sepinggiran apa. Entah sesusah apa aksesnya dari ibukota kecamatan atau kabupaten, aku memang tidak bertanya. Tapi, keluhan mereka mengingatkanku pada kisah Bu Mun, juga kisah-kisah para Pengajar Muda lainnya yang kubaca di buku Indonesia Mengajar 1 dan 2.

Coba deh pikir. Untuk apa anak-anak muda berprestasi, lulusan berbagai perguruan tinggi di Indonesia bahkan luar negeri, mayoritas dari program studi non kependidikan, bersedia menjadi Pengajar Muda Indonesia Mengajar untuk mengajar, mendidik, menginspirasi, dan menjadi jembatan bagi masyarakat di pelosok Indonesia, bahkan ada yang rela melepas pekerjaan di perusahaan multinasional? Jawabnya ternyata karena mereka ingin melunasi janji kemerdekaan: mencerdaskan kehidupan bangsa. Bandingkan dengan para calon guru yang memang dipersiapkan menjadi pelita bagi generasi penerus bangsa (tanpa terkecuali di daerah pedalaman), yang ketika diangkat menjadi PNS (diberi gaji serta tunjangan) dan ditempatkan di pedesaan ternyata berpikir untuk bisa mutasi dari sana, secepatnya kalau bisa!

Kali ini kukutip paragraf yang terdapat di bagian kata pengantar buku Indonesia Mengajar 2 yang ditulis oleh Anies Baswedan, pencetus gerakan Pengajar Muda Indonesia Mengajar.

Lihatlah sejarah. Republik ini didirikan oleh orang-orang yang pada dasarnya punya kesempatan untuk menikmati hidup bagi dirinya sendiri, tetapi mereka memilih mengabdi dan berbuat untuk bangsanya. Soekarno, lulus sebagai insinyur saat 95% bangsa kita buta huruf. Dan Mohammad Hatta adalah doktorandus dari Rotterdam, yang memilih bersusah-susah untuk menjadi pejuang. Padahal, mereka bisa hidup enak, jadi pegawai pemerintah Belanda atau korporasi lain di dunia pada masa itu.”

Memangnya kamu bersedia mengajar di pedalaman, Rin? Jika ditanya seperti itu, mungkin hanya ini jawaban yang bisa aku berikan: waktu ikut tes CPNS, dari beberapa daerah di Kalimantan Selatan yang menyediakan formasi sesuai pendidikanku, aku memilih ikut bersaing untuk menjadi guru geografi SMA di Banjarmasin. Alasannya sederhana. Aku lahir dan besar di Banjarmasin. Ada kesempatan untuk mengajar di tanah kelahiran, kenapa harus kulewatkan? Alhamdulillah, aku menikmati keseharianku menjadi pelita bagi para siswa di sekolah mewah (mepet sawah) itu. (fa_rina)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: